SohorNews.com adalah portal berita viral yang menghadirkan update terkini dari sumber terpercaya. Temukan berita teknologi, hiburan, gaya hidup, dan informasi trending setiap hari
Berita  

Kredit Naik 9,69% di Desember 2025, Perbankan Waspadai Risiko

banner 120x600

Pertumbuhan Kredit Perbankan di Akhir Tahun 2025 Menunjukkan Optimisme

Pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai 9,69% secara tahunan (year on year/YoY) pada Desember 2025 menjadi indikasi positif bagi kinerja pembiayaan di Indonesia menjelang 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 7,74%. Hal ini memberi semangat kepada sektor perbankan dalam melihat prospek kredit untuk tahun ini, meskipun prinsip kehati-hatian tetap menjadi prioritas utama.

Ketahanan Ekonomi Nasional

Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra, mengatakan bahwa pertumbuhan kredit di akhir 2025 mencerminkan ketahanan ekonomi nasional di tengah tantangan global. Ia menilai capaian tersebut tidak mengubah strategi perseroan secara drastis, namun memvalidasi optimisme terhadap keberlanjutan pertumbuhan kredit ke depan.

“Angka pertumbuhan kredit industri sekitar 9% pada Desember 2025 merupakan sinyal positif yang sangat kami apresiasi. Ini menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia,” ujarnya. Henky menambahkan bahwa Bank Sampoerna melihat tren pertumbuhan kredit masih berpotensi berlanjut pada 2026, dengan momentum akhir tahun lalu menjadi landasan yang cukup kuat.

Namun demikian, perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan. “Perbaikannya berpotensi sustain, tetapi kami tetap prudent. Momentum akhir 2025 menjadi fondasi yang baik untuk tahun ini,” katanya.

Faktor Pendorong Pertumbuhan Kredit

Henky menyebutkan bahwa pertumbuhan kredit Bank Sampoerna diperkirakan dapat sejalan dengan rata-rata industri, terutama didorong oleh pembiayaan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kolaborasi dengan mitra fintech dan lembaga keuangan lainnya.

Menurutnya, dua faktor utama yang mendorong perbaikan kredit di akhir 2025 sekaligus menjadi penentu arah pertumbuhan ke depan adalah terjaganya stabilitas ekonomi makro dan daya beli masyarakat, serta penguatan ekosistem digital dan kolaborasi yang memperluas akses pembiayaan.

“Digitalisasi dan kemitraan, termasuk melalui skema bank-as-a-service, menjadi katalis utama pertumbuhan kredit ke depan,” ujarnya.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meski ada optimisme, Henky mengingatkan adanya risiko perlambatan pertumbuhan kredit yang perlu diantisipasi. Potensi pemburukan kualitas aset, terutama pada segmen yang rentan terhadap perubahan daya beli, menjadi faktor yang paling diwaspadai oleh perbankan.

“Pertumbuhan kredit yang tinggi harus diimbangi dengan kualitas yang baik. Karena itu, kami akan terus menjaga manajemen risiko sambil tetap menyalurkan kredit ke sektor-sektor potensial,” pungkasnya.

Prospek Kredit di Tahun 2026

Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit pada Desember 2025 sebesar 9,69% YoY, meningkat dibandingkan bulan lalu yang hanya tumbuh 7,74%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit pada Desember 2025 berada di kisaran target kredit 2025 yang ditetapkan otoritas moneter, yakni di kisaran 8-11% YoY.

“Kredit perbankan tumbuh sebesar 9,96% YoY, berada dalam kisaran perkiraan Bank Indonesia sebesar 8-11%,” kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG Bulanan Januari 2026.

Berdasarkan kelompok penggunaan, Perry mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing sebesar 21,06%, 4,52%, dan 6,58%. Capaian ini sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat kebijakan likuiditas makroprudensial serta realisasi program prioritas pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga.

Dari sisi permintaan, Perry menyebut bahwa pelaku usaha terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan). BI mencatat, fasilitas undisbursed loan pada Desember 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia.

Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 28,57% dan DPK yang tumbuh sebesar 13,83% (yoy) pada Desember 2025.

Adapun BI memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 akan semakin tinggi, yakni di kisaran 8% sampai 12%. Perry memastikan, BI akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit perbankan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *