SohorNews.com adalah portal berita viral yang menghadirkan update terkini dari sumber terpercaya. Temukan berita teknologi, hiburan, gaya hidup, dan informasi trending setiap hari

Ratusan hektare sawah Ploso Jombang terendam banjir, DPRD minta data gagal panen

banner 120x600

Banjir di Kecamatan Ploso, Jombang Mengancam Sektor Pertanian

Banjir yang melanda ratusan hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, telah menjadi perhatian serius dari berbagai pihak. Luapan Sungai Marmoyo menyebabkan sawah-sawah yang biasanya produktif terendam air, mengancam hasil panen petani dan stabilitas ekonomi masyarakat setempat.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jombang, Ama Siswanto, menyoroti pentingnya tindakan cepat dari Pemerintah Daerah dalam menangani dampak banjir ini. Ia menekankan perlunya Dinas Pertanian (Disperta) segera turun ke lapangan untuk melakukan pendataan kerugian yang dialami para petani. Hal ini penting untuk mengetahui skala kerusakan dan memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Selain itu, Ama juga mengajukan agar Disperta melakukan kajian mendalam terkait penyebab banjir yang terjadi secara berkala di wilayah tersebut. Ia menilai bahwa penanganan jangka pendek saja tidak cukup. Diperlukan solusi jangka panjang untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Perusahaan di Sekitar Lokasi Banjir

Di sekitar lokasi sawah yang terdampak, terdapat beberapa perusahaan, salah satunya adalah pabrik Cheil Jedang. Sebelumnya, ada sudetan air yang digunakan untuk mengalirkan air ke Sungai Brantas, sehingga membantu mengurangi genangan di area sekitar. Namun, saat ini kondisi banjir kembali terjadi, sehingga Ama menyarankan adanya evaluasi ulang terhadap pengaruh perusahaan-perusahaan tersebut terhadap sistem irigasi pertanian.

Ia menegaskan bahwa pembangunan industri harus dilakukan dengan mempertimbangkan keberlanjutan sektor pertanian. Tidak boleh ada kebijakan yang justru merugikan petani. Hal ini sangat penting karena program nasional swasembada pangan yang diprioritaskan oleh pemerintah harus dapat diwujudkan tanpa mengorbankan kesejahteraan petani.

Penanganan Jangka Panjang

Ama menekankan bahwa penanganan banjir tidak hanya berfokus pada solusi instan, tetapi juga harus memiliki rencana jangka panjang. Ini bertujuan agar bencana serupa tidak terulang dan petani bisa berproduksi secara aman serta berkelanjutan.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ploso, Syaifuddin, menjelaskan bahwa sebanyak 130 hektare lahan pertanian terendam banjir akibat luapan Kali Marmoyo. Meskipun air mulai surut sejak 12–13 Desember, masih ada sawah yang tergenang hingga saat ini. Hal ini membuat sulit untuk menentukan jumlah pasti kerusakan tanaman.

Banjir tersebut menyebar di tiga desa, yaitu Gedongombo, Jatigedong, dan sebagian di Ploso. Di Gedongombo, luasan terbesar terdampak mencapai 70–80 hektare, sedangkan di Jatigedong sekitar 30 hektare. Masih ada potensi banjir susulan karena intensitas hujan di wilayah hulu masih tinggi.

Tantangan dan Harapan

Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya sektor pertanian di daerah tersebut terhadap perubahan iklim dan faktor lingkungan lainnya. Petani menghadapi tantangan besar dalam menjaga hasil panen mereka. Diperlukan koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan.

Dengan adanya evaluasi terhadap kebijakan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam, diharapkan dapat mencegah kerugian yang lebih besar di masa depan. Selain itu, dukungan dari berbagai pihak akan sangat penting untuk memastikan kesejahteraan petani dan kelangsungan produksi pangan di wilayah ini.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *