Kinerja BNI Tahun 2025 Sesuai Target dan Menunjukkan Pertumbuhan
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) telah menunjukkan kinerja yang stabil sepanjang tahun 2025, sesuai dengan target yang ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Direktur BNI, Ronny Venir, menyatakan bahwa seluruh indikator utama kinerja bank pelat merah ini berada dalam koridor yang sehat dan menunjukkan pertumbuhan.
“Alhamdulillah sesuai target. Target yang ditetapkan di RBB 2025 kita sesuai. Mudah-mudahan 2026 juga bisa tumbuh lagi,” ujar Ronny saat ditemui di sela-sela acara Penyerahan Dana Masyarakat Korban Scam oleh Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu (21/1/2026).
Ronny menegaskan bahwa kinerja BNI sepanjang 2025 tidak stagnan, melainkan masih mencatatkan pertumbuhan di berbagai lini bisnis. Pertumbuhan tersebut terlihat dari dana pihak ketiga (DPK), fee based income, hingga penyaluran kredit.
“Kalau seluruhnya masih bertumbuh ya. DPK tumbuh, fee based income BNI tumbuh, loan juga kita tumbuh. Dari sisi kualitas kredit juga membaik,” ujarnya.
Kualitas Aset Tetap Terjaga
Kualitas aset BNI tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di bawah 2%. Selain itu, pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) juga berada pada level yang sangat memadai.
“NPL BNI masih terjaga di bawah 2%. CKPN kita juga masih di atas 200%. Jadi semuanya masih sesuai target,” katanya.
Memasuki 2026, BNI akan mendorong pertumbuhan kinerja melalui penguatan berbagai produk dan segmen bisnis, termasuk pembiayaan perumahan dan program-program pemerintah. Ronny menyebut sejumlah produk seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) serta Kredit Daerah Maju dan Produktif (KDMP) akan menjadi salah satu pendorong.
“Produk-produk perbankan lainnya juga akan banyak sekali sekarang, seperti FLPP, KDMP, dan lainnya. Seiring ekonomi bergulir, fee based income juga pasti bertambah,” ujarnya.
Pertumbuhan Kredit di Segmen UMKM
Dari sisi penyaluran kredit, BNI optimistis pertumbuhan akan berlanjut pada 2026. Meski sepanjang 2025 penyaluran kredit lebih dominan di segmen korporasi, perseroan juga melihat peluang pertumbuhan yang lebih besar di segmen UMKM.
“Penyaluran kredit pasti akan bertumbuh. Walaupun kemarin lebih banyak di korporasi, kredit UMKM saya pikir juga akan lebih banyak untuk pertumbuhan ke depan,” tambah Ronny.
Laba Bersih dan Pendapatan Bunga
Secara konsolidasi, BNI membukukan laba bersih sebesar Rp15,12 triliun hingga kuartal III/2025, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp16,42 triliun.
Dalam laporan keuangan, BBNI mencatat pendapatan bunga sebesar Rp51,16 triliun hingga September 2025, tumbuh 4,77% secara tahunan (YoY) dari Rp48,83 triliun. Beban bunga tercatat sebesar Rp21,91 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih mencapai Rp29,25 triliun.
Kondisi Modal dan Likuiditas
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) BNI berada di level solid sebesar 21,1%, dengan Tier-1 Capital yang tetap kuat. Likuiditas perseroan juga terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, serta Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%.
Perbaikan Kualitas Aset
Kualitas aset BNI turut menunjukkan perbaikan. Rasio NPL gross berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%. Hingga akhir September 2025, total penyaluran kredit BNI tumbuh 10,5% YoY menjadi Rp812,2 triliun dengan pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis.













