Tantangan IHSG Pasca-Pengumuman MSCI
Pasar modal Indonesia kembali menghadapi tantangan setelah pengumuman dari MSCI yang memutuskan untuk menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia. Keputusan ini mencakup pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard.
Tujuan dari langkah ini adalah untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas. Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan bahwa hal ini dilakukan guna memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk meningkatkan transparansi yang lebih bermakna. Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, Bursa RI berpotensi turun peringkat dari Emerging Market menjadi Frontier Market, yang akan membuat posisi Indonesia sejajar dengan Vietnam dan Filipina.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, mengungkapkan bahwa pihaknya masih perlu waktu untuk berdiskusi dengan MSCI. BEI sedang menyusun formula yang akan diajukan kepada MSCI sebelum bulan Mei 2026. Pertemuan antara BEI dan MSCI telah digelar sejak Desember 2025 lalu, di mana mereka membahas tentang perubahan metodologi penghitungan free float.
Meskipun BEI telah berupaya mencukupi kebutuhan transparansi free float saham emiten Indonesia, pengumuman MSCI hari ini menunjukkan ketidakpuasan dengan data yang diberikan oleh self regulatory organization (SRO) Indonesia. Meski demikian, Iman mengatakan bahwa investor asing tidak akan langsung hengkang dari pasar saham domestik. Hal ini karena transaksi bursa biasanya mencapai Rp 31 triliun jika tidak ada pengumuman dari MSCI, menunjukkan masih terjaganya kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
Kinerja IHSG Hari Ini
IHSG hari ini (28/1) tercatat turun 7,35% ke level 8.320. Dana asing keluar dari Bursa sebesar Rp 6,12 triliun di pasar reguler dan Rp 6,17 triliun di seluruh pasar. Namun, Iman menjelaskan bahwa keputusan MSCI sebagai index provider hanya sebagai panutan investor asing yang pasif. Investor asing yang aktif tetap akan masuk ke pasar saham RI.
Masalah keterbukaan free float sudah berjalan lama. Meskipun begitu, emiten dari bursa RI masih terus masuk MSCI dan bahkan market share Indonesia saat ini sudah 1,5%, naik dari tahun-tahun sebelumnya.
Pandangan Pengamat Pasar Modal
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, melihat bahwa pergerakan IHSG sebenarnya sudah cenderung melemah dalam beberapa hari terakhir dan pengumuman MSCI memperparah kondisi tersebut. Penurunan IHSG itu diawali dari masalah pergerakan saham konglomerasi yang cukup agresif dan spekulatif, yang bahkan mampu menopang pergerakan indeks secara keseluruhan.
Teguh menyarankan investor untuk tetap bertahan memilih saham emiten berdividen bagus. Ini lantaran penurunan saham mereka tak lebih dalam dari IHSG hari ini. Di sisi lain, investor bisa sedikit menghindari saham emiten konglomerasi, karena berisiko tinggi dan pergerakannya cenderung spekulatif.
Saham-saham non-konglomerasi punya kesempatan naik dalam satu-dua bulan ke depan. Sektor yang bagus ada dari perbankan, konsumer, dan batubara. Jika perbaikan tidak dilakukan hingga Mei 2026 dan terjadi penurunan kasta Bursa RI menjadi Frontier Market, IHSG bisa turun ke level 7.500. Namun, penurunan itu akan terjadi secara bertahap selama lima bulan ke depan.
Di sisi lain, jika Bursa berbenah dan MSCI membatalkan keputusan itu, target IHSG bisa kembali ke awal di 10.000. Teguh menilai bahwa perubahan bobot saham konglomerasi terhadap IHSG bisa menjadi salah satu obat penawar untuk menyelamatkan indeks turun lebih jauh. Sayangnya, hingga saat ini belum ada upaya apa pun dari otoritas terkait hal itu. Saham-saham initial public offering (IPO) juga masih banyak yang berujung jadi saham gorengan.









