Identifikasi Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 oleh Tim DVI Polda Sulawesi Selatan
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan berhasil mengidentifikasi dua jenazah korban pesawat ATR 42-500, yaitu Florencia Lolita Wibisono dan Deden Maulana. Proses identifikasi ini dilakukan dengan berbagai metode yang memastikan keakuratan dan kecepatan dalam menentukan identitas korban.
Florencia ditemukan di jurang sedalam 500 meter, sementara Deden ditemukan lebih dulu di jurang kedalaman 200 meter di kawasan Bulusaraung. Jenazah Florencia tiba di RS Bhayangkara Makassar pada Selasa malam, sedangkan Deden tiba pada Rabu pagi. Kedua jenazah tersebut kemudian diproses oleh tim DVI untuk menentukan identitas mereka.
Proses Identifikasi yang Berbeda
Identifikasi Florencia Lolita Wibisono berjalan lebih cepat dibandingkan Deden Maulana. Hal ini disebabkan oleh kondisi jenazah yang masih relatif baik, sehingga sidik jari dapat dibaca dengan mudah. Menurut Kepala Pusat Identifikasi (Kapusindent) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mashudi, proses identifikasi dimulai dengan pemeriksaan sidik jari. Papillary ridges atau garis-garis menonjol pada jari dapat terbaca, sehingga memungkinkan pengambilan sidik jari menggunakan alat yang tersedia.
Setelah itu, tim melanjutkan dengan pembandingan data sidik jari jempol tangan kiri korban dengan data yang telah ada. Metode ini memastikan bahwa identitas Florencia Lolita Wibisono dapat dipastikan secara ilmiah. “Kami bisa meyakini secara keilmuan bahwa yang bersangkutan adalah Florencia Lolita Wibisono,” ujar Brigjen Pol Mashudi.
Perbedaan Waktu Identifikasi
Sementara itu, identifikasi jenazah Deden Maulana membutuhkan waktu lebih lama. Hal ini disebabkan oleh kondisi jenazah yang kurang optimal. Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, menjelaskan bahwa proses identifikasi bergantung pada kondisi jenazah saat diterima oleh tim DVI.
Menurutnya, terdapat dua metode utama dalam identifikasi korban: metode primer dan metode sekunder. Metode primer mencakup pemeriksaan sidik jari, profil gigi, serta pemeriksaan DNA. Jika sidik jari dan profil gigi masih dapat diperiksa, identifikasi bisa dilakukan lebih cepat. Namun, jika tidak memungkinkan, maka pemeriksaan DNA harus dilakukan, yang memakan waktu lebih lama.
Metode sekunder melibatkan pencocokan data medis, pakaian, properti pribadi, serta ciri-ciri khusus korban yang diperoleh dari data ante mortem keluarga. Meskipun metode ini tidak langsung menentukan identitas, namun menjadi pendukung utama dalam proses identifikasi.
Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Identifikasi
Selain kondisi jenazah, lamanya proses evakuasi di lapangan juga memengaruhi kecepatan identifikasi. Untuk jenazah Florencia, proses identifikasi berjalan lebih cepat karena kondisi jenazah yang baik dan keberadaan sidik jari yang dapat diperiksa secara optimal. Sementara itu, jenazah Deden masih dalam proses identifikasi hingga Rabu sore.
Pemeriksaan ante mortem terhadap Florencia dilakukan pada Selasa malam, dan hasilnya diumumkan ke publik pada Rabu siang. Proses ini menunjukkan betapa pentingnya kesiapan dan kecepatan dalam menangani kasus-kasus seperti ini.
Penutup
Kini, kedua korban telah dibawa ke Jakarta untuk dimakamkan. Proses identifikasi yang dilakukan oleh tim DVI Polda Sulawesi Selatan memberikan rasa kepastian bagi keluarga korban. Dengan metode yang terstruktur dan berbasis ilmu pengetahuan, tim DVI tetap menjaga akurasi dan kecepatan dalam menangani setiap kasus kematian yang melibatkan korban bencana.













